Robo-Robo adalah salah satu tradisi budaya yang unik dan bersejarah dari masyarakat Melayu di Kalimantan Barat. Di Ketapang, tradisi ini dikenal sebagai Pentas Seni Budaya Robo-Robo yang digelar setiap tahun di tepian Sungai Pawan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong. Baru-baru ini, tradisi Robo-Robo Kauman 2026 kembali digelar dengan meriah dan dihadiri ribuan masyarakat. Inilah kisah lengkap di balik tradisi yang tak lekang oleh zaman ini.
Berawal dari Ketapang, Berkembang ke Seluruh Kalbar

Menariknya, tradisi Robo-Robo berawal dari kisah kedatangan Opu Daeng Menambon, seorang bangsawan dari Kerajaan Matan yang kini berada di wilayah Tanjung Pura, Ketapang, ke Kerajaan Mempawah pada abad ke-18. Ia adalah pemimpin yang berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan Kesultanan Mempawah.
Opu Daeng Menambon dan Putri Kesumba berlayar bersama 40 rombongan perahu dari Ketapang ke Kuala Mempawah. Ketika tiba, seluruh masyarakat menyambut gembira — bahkan sampai memasang kain warna-warni di setiap rumah penduduk. Momen bersejarah inilah yang kemudian diabadikan menjadi tradisi Robo-Robo.
Makna di Balik Nama Robo-Robo

Secara harfiah, “robo” dalam bahasa Melayu berarti “berlayar” atau “berpindah tempat.” Makna ini melambangkan perjalanan spiritual dan fisik Opu Daeng Menambon dalam menyebarkan Islam dan membangun peradaban baru. Tradisi ini dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, bulan Safar diyakini sebagai waktu yang perlu disambut dengan doa dan syukur — waktu untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dijaga dari musibah.
Robo-Robo di Ketapang

Di Ketapang, Robo-Robo digelar di tepian Sungai Pawan, Kelurahan Kauman setiap tahunnya. Rangkaian acaranya sangat kaya — dimulai dengan penyambutan tamu yang diiringi tabuhan gendang dan atraksi Silat Kutamare, prosesi pemancungan batang, hingga pertunjukan seni seperti Hadrah, Tari Japin, Dendang Melayu, Syair Gulung, Pantun, dan Kasidah. Selain itu, stand UMKM lokal yang menyajikan kuliner khas Melayu turut memeriahkan suasana.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ketapang menegaskan bahwa Robo-Robo bukan sekadar ritual adat biasa — melainkan wadah untuk melestarikan budaya daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun sekaligus memperkuat tali silaturahmi antarwarga Ketapang.
Tradisi Robo-Robo membuktikan bahwa warisan leluhur dari Bumi Ale-Ale tetap hidup dan relevan — menjadi kebanggaan identitas Melayu Ketapang yang terus dirayakan dari generasi ke generasi.
Baca juga:
Dari Ketapang untuk Indonesia, Kisah Pengusaha dan Tokoh Lokal yang Menginspirasi