Setiap musim buah tiba, masyarakat Dayak Jelai Sekayoq di Desa Penyarang, Kecamatan Jelai Hulu, memiliki tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun: Menjangkap Buah.
Tradisi ini bukan sekadar menandai datangnya musim panen. Menjangkap Buah menjadi momentum berkumpulnya masyarakat, keluarga, hingga para perantau yang pulang ke kampung halaman untuk menikmati hasil alam sekaligus mempererat silaturahmi.
Lebih dari Sekadar Panen

Dalam pelaksanaannya, berbagai buah lokal seperti durian, rambutan, malui, kusik, dan mentawa menjadi bagian dari suasana ritual. Prosesi juga diiringi musik tradisional Senggayong.
Di balik tradisi tersebut terdapat nilai tentang rasa syukur, kesabaran, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga tembawang, kawasan hutan buah warisan leluhur yang memiliki nilai budaya sekaligus fungsi ekologis.
Menjangkap Buah juga menjadi ruang bagi generasi tua dan muda untuk berkumpul dan mengenal kembali pengetahuan serta tradisi yang diwariskan leluhur. Karena itu, keberadaannya bukan hanya penting bagi masyarakat yang menjalankannya, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Ketapang.
Berpotensi Jadi Wisata Budaya
Pemerintah Kabupaten Ketapang melihat Menjangkap Buah memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya dan kuliner daerah. Sejak 2023, pemerintah daerah juga telah mendorong agar tradisi ini dapat diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Pengembangan tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan Jelai Hulu kepada masyarakat yang lebih luas. Apalagi, pengalaman wisata tidak hanya soal melihat sebuah ritual, tetapi juga mengenal cerita di balik tradisi, mencicipi hasil alam, dan merasakan kehidupan masyarakat setempat.
Menjangkap Buah pada akhirnya menunjukkan bahwa kekayaan wisata Ketapang tidak hanya berada pada pemandangan alam. Ada pula tradisi, cerita, dan hubungan masyarakat dengan alam yang telah dijaga selama turun-temurun.
Baca juga:
5 Spot Foto Hits di Ketapang yang Wajib Masuk Bucket List Kamu