Di balik kemeriahan Patih Jaga Pati Cup 2026 yang baru saja digelar, satu olahraga mencuri perhatian lebih dari yang lain — menyumpit. Bupati Ketapang Alexander Wilyo menegaskan bahwa menyumpit merupakan warisan budaya luhur masyarakat Dayak yang telah diwariskan turun-temurun. Jika dahulu sumpit digunakan sebagai alat berburu dan bertahan hidup, kini olahraga menyumpit berkembang menjadi olahraga rekreasi yang inklusif, menyehatkan, serta sarat dengan nilai budaya dan filosofi.

Dari Hutan ke Lapangan Kompetisi

Sumpit merupakan senjata tradisional yang berbentuk pipa panjang dan di dalamnya disisipkan panah kecil untuk dilontarkan dengan bantuan angin dari tiupan mulut. Bagi masyarakat Dayak Kalimantan, selain mandau, sumpit merupakan senjata yang selalu dibawa saat mereka pergi berburu di hutan.

Kayu yang digunakan untuk membuat sumpit berasal dari jenis terpilih seperti kayu Bunyau, Penyau, Kebaca, dan Tapang. Ukuran batang sumpitan biasanya disesuaikan dengan si empunya — sepanjang satu depa atau sekitar 1,5 hingga 2 meter.

Kini, sasaran hewan hidup pun telah diganti dengan papan target, di mana ketenangan, teknik pernapasan, dan tingkat akurasi menjadi penentu kemenangan.

Teknik yang Butuh Konsentrasi Tinggi

Dalam memegang sumpit yang memiliki panjang rata-rata 2 meter, tangan kanan memegang pangkal sumpit dan tangan kiri memegang bagian sumpit sekira 50 cm dari pangkal dengan siku menempel di badan untuk menjaga keseimbangan. Sebelum meniup, penyumpit harus lebih dahulu mengumpulkan udara di mulut dan menahannya ketika melihat target. Saat merasa target sudah pas, barulah nafas udara yang ditahan di mulut tadi ditiupkan dengan teknik satu kali tiupan.

Menyumpit memang terlihat sederhana, tetapi membutuhkan latihan intensif untuk menguasai teknik pernapasan dan meningkatkan akurasi tembakan.

Ketapang, Tuan Rumah Kejuaraan Menyumpit Tingkat Kalbar

Ketapang telah membuktikan diri sebagai salah satu pusat pelestarian olahraga menyumpit di Kalimantan Barat. Pada Desember 2025, sebanyak 86 atlet dari berbagai kabupaten dan kota se-Kalbar berlaga dalam Kejuaraan Menyumpit KORMI Cup di Balai Sungai Kedang, Ketapang. Dan pada Agustus 2026, Patih Jaga Pati Cup kembali menghadirkan menyumpit sebagai salah satu cabang andalan dalam perayaan HUT RI ke-81.

Bagi Bupati Alexander, menyumpit bukan sekadar olahraga. Ia adalah cerminan identitas dan kebanggaan budaya Bumi Ale-Ale yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Baca juga:
Panduan Lengkap Perjalanan dari Ketapang ke Kayong Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *