Setiap kali warga Ketapang dan wisatawan tiba di Bandara Rahadi Oesman, mereka menapaki tanah yang menyimpan kisah perjuangan luar biasa — kisah seorang pemuda berusia 25 tahun yang rela meninggalkan bangku kuliah demi membawa berita kemerdekaan ke Kalimantan Barat dan gugur sebagai pahlawan di bumi Ketapang.
Mahasiswa Farmasi yang Jadi Pejuang

Rahadi Oesman lahir di Pontianak pada 1 Agustus 1920. Pada masa pendudukan Belanda dan Jepang, ia merupakan mahasiswa jurusan Farmasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta. Bergabung dalam gerakan pemuda Angkatan Pemuda Indonesia (API), Rahadi turut berjuang memastikan teks proklamasi berhasil disiarkan melalui radio Jepang pada 17 Agustus 1945.
Ketika mendengar Kalimantan Barat masih dikuasai Belanda pasca kemerdekaan, Rahadi Oesman bertekad bulat untuk kembali ke Kalimantan Barat dan mempelopori perjuangan rakyat Ketapang melawan Belanda. Ia rela meninggalkan bangku kuliahnya demi tanah kelahiran.
Misi Berbahaya ke Ketapang

Pada 30 November 1945, rombongan yang dipimpin Rahadi Oesman berhasil mendarat di pantai Kampung Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang. Mereka menjadikan kampung tersebut sebagai markas pertahanan sementara sambil menyusun strategi menghadapi Belanda.
Namun Belanda mengetahui keberadaan mereka. Dini hari 7 Desember 1945, terjadi penyerangan mendadak. Dalam pertempuran itu, Rahadi Oesman gugur tertembak — dalam usia yang baru menginjak 25 tahun. Jasadnya kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjungpura, sekitar 5 kilometer dari pusat kota Ketapang.
Kisah Cinta yang Mengharukan
Di balik semangat juangnya, Rahadi Oesman juga menyisakan kisah romantis yang mengharukan. Ia meninggalkan seorang gadis — kekasih hatinya — di Stasiun Kereta Jatinegara, demi menjalankan misi membawa berita kemerdekaan ke Kalimantan Barat. Sebuah perpisahan yang ternyata menjadi yang terakhir.
Sebagai penghargaan atas pengorbanannya, nama Rahadi Oesman diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 106/TK/1967, serta diabadikan sebagai nama bandara di Ketapang dan nama jalan di Pontianak. Setiap penerbangan yang mendarat di Ketapang adalah pengingat bahwa ada darah seorang pahlawan muda yang pernah tumpah di tanah ini.
Baca juga:
83 Hari Tanpa Hujan, Ketapang Gelar Rakor Darurat Karhutla dan Kekeringan