Setiap kota punya landmark yang jadi identitas, dan bagi Ketapang, landmark itu adalah Tugu Ale-Ale. Berlokasi di bundaran perempatan Jalan R. Suprapto, Jalan Pawan 1, dan Jalan K.H. Murni, tugu ini bukan sekadar penghias kota, melainkan simbol yang mengangkat kekayaan kuliner khas daerah menjadi identitas visual yang dikenal luas.

Tugu ini dibangun dengan desain menyerupai cangkang kerang ale-ale, kuliner khas yang hanya bisa ditemukan di muara Sungai Pawan dan pesisir Ketapang. Pemerintah daerah menjadikan ale-ale sebagai ikon kuliner sekaligus identitas kota, sehingga wajar jika bentuknya diabadikan dalam wujud monumen yang berdiri megah di titik strategis kota. Bundaran ini juga dikenal luas sebagai titik nol kilometer Kota Ketapang, menjadikannya penanda geografis sekaligus kultural yang penting.

Di balik tugu ini, tersimpan legenda turun-temurun tentang asal-usul nama Ketapang. Konon dahulu ada sebuah pohon ketapang raksasa yang begitu besar hingga menutupi cahaya matahari ke perkampungan. Ketika pohon itu akhirnya ditebang, ia berubah menjadi Sungai Pawan yang membentang dari hulu ke hilir, sementara buah-buahnya berubah menjadi kerang ale-ale yang kini menjadi kuliner khas daerah. Legenda ini menjadi bagian dari kisah rakyat yang terus dikenang masyarakat setempat.

Letak Tugu Ale-Ale yang strategis membuatnya mudah dijangkau, hanya sekitar 10 menit berkendara dari Bandara Rahadi Oesman dan berjarak sangat dekat dengan Jembatan Pawan 1. Kawasan sekitarnya juga ramai dengan pertokoan, kuliner, dan berbagai fasilitas publik, menjadikannya area yang selalu hidup sepanjang hari. Meski begitu, pengunjung disarankan untuk tidak berfoto langsung di area bundaran mengingat arus lalu lintas di sekitarnya cukup padat.

Sebagai ikon kota yang menyatukan sejarah, kuliner, dan legenda rakyat, Tugu Ale-Ale menjadi bukti bagaimana masyarakat Ketapang menghargai kekayaan lokalnya. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Ketapang, melintasi kawasan ini terasa seperti napak tilas identitas kota yang dikenal luas sebagai Kota Ale-Ale.

Baca juga:
Tugu Khatulistiwa, Ikon Wisata Kalimantan Barat yang Sarat Sejarah dan Fenomena Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *