Di sebuah desa kecil bernama Podorukun, Kecamatan Seponti, Kayong Utara, para petani menanam kopi di tanah yang tak biasa — lahan gambut yang hanya 5 hingga 7 meter dari permukaan laut. Bukan di pegunungan sejuk seperti kebanyakan kebun kopi Indonesia. Tapi justru dari sinilah lahir secangkir kopi yang mengharumkan nama Kalimantan Barat di panggung dunia.
Kelompok Tani yang Mengubah Nasib

Sejak tahun 2017, kelompok tani “Cahaya Kayong Seponti” di Desa Podorukun mulai dilatih secara intensif untuk mengolah kopi Liberika dengan standar yang lebih baik. Bukan perkara mudah — mereka harus bersaing dengan godaan menanam sawit yang harganya lebih pasti dan pasarnya lebih luas.
Namun para petani ini bertahan. Dan perjuangan mereka tidak sia-sia. Pada tahun 2022, Kopi Liberika dari Kayong Utara berhasil meraih penghargaan di World Coffee Challenge di Spanyol — sebuah momen bersejarah yang membuktikan bahwa kopi dari gambut Kalimantan Barat layak berdiri sejajar dengan kopi-kopi terbaik dunia.
Biji Besar, Rasa Tak Tertandingi

Kopi Liberika memiliki keunikan yang langsung terlihat secara fisik — bijinya jauh lebih besar dibandingkan Arabika maupun Robusta. Aromanya kuat dan khas, sering digambarkan memiliki nuansa buah-buahan tropis dengan sedikit sentuhan smokiness yang unik. Di dunia kopi spesialti, Liberika masuk dalam kategori langka — hanya sekitar 2 persen dari total produksi kopi dunia.
Bagi Kalimantan Barat, Liberika bukan sekadar jenis kopi biasa. Ia adalah kopi yang lahir dari keunikan geografis — dataran rendah gambut yang sebenarnya tak lazim untuk pertanian kopi, namun justru menghasilkan karakter rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Perlindungan Hukum dan Pengakuan Nasional
Perjuangan petani Kayong Utara akhirnya mendapat pengakuan resmi. Pada tahun 2023, Kopi Liberika Kayong berhasil mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM — sebuah perlindungan hukum yang memastikan keaslian dan kekhasan produk kopi Kayong Utara terjaga dari pemalsuan dan pengakuan pihak lain.
Brand lokal seperti Kojal Coffee pun mulai membawa nama Liberika Kayong ke panggung nasional — hadir di ajang World of Coffee 2025 di Jakarta dan memperkenalkan kopi ini kepada komunitas pencinta kopi spesialti Indonesia yang terus berkembang.
Dari gambut Kayong yang sederhana, kopi ini telah membuktikan satu hal — bahwa identitas lokal yang dijaga dengan sungguh-sungguh bisa menjadi kebanggaan yang melampaui batas daerah, bahkan batas negara.
Baca juga:
Ketapang Gandeng Solidaridad untuk Kembangkan Bentang Alam Berkelanjutan