KETAPANG – Ekonomi kreatif Ketapang perlahan menunjukkan denyut yang makin terasa. Salah satu panggungnya terlihat setiap akhir pekan di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Ketapang, tempat ribuan warga berkumpul sambil menikmati sajian dan produk dari para pelaku usaha lokal. Aktivitas ini menandakan bahwa geliat UMKM di Bumi Kayong tak lagi sekadar wacana, melainkan sudah bergerak nyata di ruang publik.

CFD, Etalase Baru bagi Pelaku Usaha

Menariknya, CFD Ketapang kini bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ruang berolahraga. Membentang dari Taman Kedondong hingga Simpang Tiga Jalan HOS Cokroaminoto, kawasan bebas kendaraan ini berubah menjadi tempat warga berekreasi sekaligus berbelanja produk UMKM. Bahkan, sejumlah pelayanan publik turut dihadirkan langsung di lokasi.

Pemerintah Kabupaten Ketapang pun berkomitmen menata wajah kota agar makin nyaman dijadikan ruang aktivitas warga. Penataan trotoar, pedestrian, hingga taman kota menjadi bagian dari upaya tersebut. Dengan ruang publik yang lebih tertata, pelaku usaha memiliki panggung yang lebih layak untuk memasarkan produknya.

Ale-ale dan Modal Kekuatan Lokal

Sebagai daerah yang dijuluki “Kota Ale-ale“, Ketapang sejatinya punya modal identitas yang kuat untuk menopang ekonomi kreatifnya. Produk kuliner khas seperti ale-ale, amplang, hingga lempok durian bukan hanya lezat, tetapi juga berpotensi menjadi oleh-oleh bernilai jual tinggi. Karena itu, penguatan sektor kuliner bisa menjadi pintu masuk paling realistis bagi UMKM setempat.

Selain kuliner, subsektor lain seperti kriya dan fesyen juga menyimpan peluang serupa. Kekayaan budaya lokal dapat menjadi bahan baku kreativitas yang membedakan produk Ketapang dari daerah lain. Inilah yang membuat produk berbasis identitas daerah kerap punya daya tarik tersendiri di pasar.

Tantangan Naik Kelas

Meski geliatnya positif, pelaku UMKM masih menghadapi pekerjaan rumah agar bisa naik kelas. Di tingkat provinsi, Dekranasda Kalimantan Barat menilai produk kerajinan daerah sebenarnya berkualitas, namun masih perlu penguatan dari sisi kemasan dan promosi agar mampu menembus pasar yang lebih luas. Sebab, tampilan produk kerap menjadi kesan pertama yang menentukan minat konsumen.

Selain itu, transformasi digital menjadi kunci lain. Adopsi pembayaran digital serta pemasaran lewat media sosial dapat memperluas jangkauan pasar pelaku usaha. Di sisi lain, pemetaan pelaku usaha melalui Sensus Ekonomi 2026 yang digelar Badan Pusat Statistik diharapkan membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Dengan modal identitas yang kuat dan ruang publik yang makin hidup, ekonomi kreatif Ketapang punya peluang besar untuk terus tumbuh. Kuncinya kini ada pada kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar produk lokal tak hanya jago di kandang, tetapi juga mampu bersaing lebih luas.

Baca juga:
Kurang dari Setahun, Putra Asli Kayong Utara Ini Dirotasi Empat Kali hingga Jadi Talenta Tangguh di KIPP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *