KETAPANG – Jauh sebelum menjadi kabupaten seperti sekarang, kawasan Ketapang dan sekitarnya telah menjadi saksi peradaban tua di Kalimantan Barat. Kerajaan Tanjungpura disebut sebagai salah satu kerajaan tertua di provinsi ini, yang keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak abad ke-8. Jejaknya menjadi bukti bahwa “Tanah Kayong” pernah memiliki peradaban yang cukup maju pada masanya.

Dari Bakulapura ke Tanjungpura

Nama Tanjungpura ternyata menyimpan cerita tersendiri. Pada masa lampau, kawasan ini sempat dikenal sebagai Bakulapura dan bahkan pernah menjadi bagian dari pengaruh Kerajaan Singasari. Kata “bakula” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang merujuk pada pohon tanjung. Seiring waktu, penyebutannya berubah dalam lidah Melayu hingga akhirnya melekat menjadi Tanjungpura.

Berpindah-pindah Ibu Kota

Salah satu hal menarik dari kerajaan ini adalah pusat pemerintahannya yang beberapa kali berpindah. Mulanya, ibu kota berada di Negeri Baru yang kini menjadi salah satu desa di Ketapang. Kemudian, pusat kerajaan berpindah ke Sukadana, yang saat ini menjadi ibu kota Kabupaten Kayong Utara, seiring rajanya yang memeluk Islam.

Perpindahan tak berhenti di situ. Menurut catatan sejarah, nama “Matan” baru digunakan setelah pusat kerajaan dipindahkan lagi ke kawasan Sungai Matan. Dari rangkaian panjang inilah kemudian lahir beberapa kerajaan turunan, seperti Kerajaan Sukadana, Matan, Simpang-Matan, dan Kayong-Matan. Sejumlah sumber menyebut serangan bajak laut dan kerajaan lain sebagai salah satu pemicu perpindahan tersebut.

Keraton Matan, Saksi yang Tersisa

Hingga kini, jejak kejayaan itu masih bisa disaksikan melalui Keraton Matan di Ketapang. Bangunan yang juga dikenal sebagai Istana Panembahan Matan ini menjadi salah satu peninggalan kerajaan Melayu Islam yang tersisa di Kalimantan Barat. Sebagai keraton Melayu, warnanya pun didominasi kuning dan hijau yang khas.

Tepat di depan keraton, terdapat sepasang meriam pendek yang menyimpan legenda. Konon, kedua meriam yang disebut “suami-istri” itu tak boleh dipisahkan. Bagi yang penasaran, keraton ini terbuka untuk dikunjungi tanpa dipungut biaya, sementara sumbangan sukarela biasanya diberikan kepada pemandu.

Warisan yang Perlu Dijaga

Seiring berjalannya waktu, keturunan kerajaan ini disebut tersebar ke berbagai daerah, mulai dari Mempawah hingga Pontianak. Untuk menjaga warisan tersebut, Pemerintah Kabupaten Ketapang pun telah melakukan pemugaran dan pemeliharaan terhadap peninggalan yang ada.

Pada akhirnya, sejarah Tanjungpura bukan sekadar kisah masa lalu. Jejak ini menjadi pengingat bahwa Ketapang memiliki akar peradaban yang dalam, sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah yang layak dikenalkan kepada generasi muda.

Baca juga:
Harmoni Budaya Kalimantan Barat Lewat Busana Adat Dayak, Melayu, Tionghoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *